PERTEMUAN STACKHOLDER 5 Pilar STBM UPT PUSKESMAS JOGOROGO

UPT Puskesmas Jogorogo mengadakan Pertemuan Stack Holder dan Sosialisasi 5 Pilar STBM di Desa Talang Dan Umbulrejo. Dalam pertemuan ini dihadir oleh Kepala UPT Puskesmas Jogorogo dr. Arvika Rastra Parbawanto, Kepala Desa Talang dan Kepala Desa Umbulrejo, beserta tookh masyarakat kader dan perangkat desa masing-masing desa. PErtemuan dilaksanakan secara terpisah dengan materi dan tujuan sama yaitu Komitmen Bersama dalam peningkatan 5 Pilar STBM dan Kampanye CTPS. Pertemuan dilaksanakan pada tgl 6 Oktober 2020 di Desa Umbulrejo dan 8 Oktober 2020 Di Desa Talang.

STBM adalah pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. Sedangkan Pilar STBM adalah perilaku higienis dan saniter yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

Pilar STBM ditujukan untuk memutus mata rantai penularan penyakit dan keracunan. Adapun 5 Pilar STBM yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Stop Buang Air Besar Sembarangan, kondisi ketika setiap individu dalam suatu komunitas tidak lagi melakukan perilaku buang air besar sembarangan yang berpotensi menyebarkan penyakit.
  2. Cuci Tangan Pakai Sabun, perilaku cuci tangan dengan menggunakan air bersih yang mengalir dan sabun.
  3. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga, melakukan kegiatan mengelola air minum dan makanan di rumah tangga untuk memperbaiki dan menjaga kualitas air dari sumber air yang akan digunakan untuk air minum, serta untuk menerapkan prinsip higiene sanitasi pangan dalam proses pengelolaan makanan di rumah tangga.
  4. Pengamanan Sampah Rumah Tangga, melakukan kegiatan pengolahan sampah di rumah tangga dengan mengedepankan prinsip mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang.
  5. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga, melakukan kegiatan pengolahan limbah cair di rumah tangga yang berasal dari sisa kegiatan mencuci, kamar mandi, dan dapur yang memenuhi standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan yang mampu memutus mata rantai penularan penyakit.

Perilaku stop buang air besar sembarangan diwujudkan melalui kegiatan paling sedikit terdiri atas:

  1. Membudayakan perilaku buang air besar sehat yang dapat memutus alur kontaminasi kotoran manusia sebagai sumber penyakit secara berkelanjutan.
  2. Menyediakan dan memelihara sarana buang air besar yang memenuhi standar dan persyaratan kesehatan.

Perilaku cuci tangan pakai sabun diwujudkan melalui kegiatan paling sedikit terdiri atas:

  1. Membudayakan perilaku cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun secara berkelanjutan
  2. Menyediakan dan memelihara sarana cuci tangan yang dilengkapi dengan air mengalir, sabun, dan saluran pembuangan air limbah.

Perilaku pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga diwujudkan melalui kegiatan paling sedikit terdiri atas:

  1. Membudayakan perilaku pengolahan air layak minum dan makanan yang aman dan bersih secara berkelanjutan.
  2. Menyediakan dan memelihara tempat pengolahan air minum dan makanan rumah tangga yang sehat.

Perilaku pengamanan sampah rumah tangga diwujudkan melalui kegiatan paling sedikit terdiri atas:

  1. Membudayakan perilaku memilah sampah rumah tangga sesuai dengan jenisnya dan membuang sampah rumah tangga di luar rumah secara rutin.
  2. Melakukan pengurangan (reduce), penggunaan kembali (reuse), dan pengolahan kembali (recycle).
  3. Menyediakan dan memelihara sarana pembuangan sampah rumah tangga di luar rumah.

Perilaku pengamanan limbah cair rumah tangga diwujudkan melakui kegiatan paling sedikit terdiri atas:

  1. Melakukan pemisahan saluran limbah cair rumah tangga melalui sumur resapan dan saluran pembuangan air limbah.
  2. Menyediakan dan menggunakan penampungan limbah cair rumah tangga.
  3. Memelihara saluran pembuangan dan penampungan limbah cair rumah tangga.

Dalam rangkaian pertemuan ini telag disepakati untuk selalu koordinasi dan bekerjasama dalam peningkatan 5 Pilar STBM sehinga terwujudnya masyarakat yang sehat, aman  dan mandiri.

STUDI IKAN MAS

Sebagian masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek ( kerdil ) dari standart usianya. Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.
Menurut Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moelok, terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu

  1. Perbaikan Pola Makan
    Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam.
    Istilah ”Isi Piringku” dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.
  2. Perbaikan Pola Asuh
    – Remaja putri dan ibu hamil rutin minum tablet tambah darah 
    – Ibu hamil memeriksakan kandungan 4 kali selama kehamilan
    – Ibu hamil melahirkan di fasilitas kesehatan dan melakuan IMD
    – Memberikan ASI Eksklusif pada bayi 0 – 6 bulan
    – Makanan pendamping ASI ( MP – ASI ) diberikan pada bayi 6 – 24 bulan
    – Imunisasi dasar lengkap bagi bayi dibawah 1 tahun dan imunisasi lanjutan
  3. Sanitasi dan Akses Air Bersih
    – Biasakan CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun ) dengan 6 langkah cuci tangan terutama pada 5 waktu penting : Sebelum makan, Setelah BAB, Sebelum menjamah makanan, Sebelum menyusui dan Setelah beraktifitas.
    – Gunakan Air Bersih
    – Tidak BAB Sembarangan dan gunakan selalu jamban sehat

Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.

Kejadian stunting di UPT Puskesmas Jogorogo pada tahun 2019 sebanyak 6,8 % dan telah terjadi penurunan berdasarkan hasil bulan timbang pada bulan Agustus 2020 menjadi 4, 5 %. Dalam rangka pencegahan stunting di Puskesmas Jogorogo mempunyai program yang kita sebut dengan nama ”STUDI IKAN MAS” yang artinya Stunting Dicegah dengan Perbaikan Pola Makan Pola Asuh dan Sanitasi dengan moto

  1. No susu formula untuk bayi 0 – 6 bulan
  2. No Gadget untuk balita
  3. No junk food
  4. Sanitasi yang terjamin

Adapun kegiatan yang sudah kita lakukan antara lain:

  1. Perbaikan Pola Makan
    * Memberikan PMT Posyandu dalam bentuk buah setiap bulan di setiap posyandu
    * Pembentukan KP – ASI ( Kelompok Pendukung Air Susu Ibu ) di setiap desa
    * Sosialisasi PMBA ( Pemberian  Makan Bayi dan Anak )
  1. Perbaikan Pola Asuh
    – ANC Terpadu di Puskesmas
    – BPIH ( Bulan Peduli Ibu Hamil )
    – Kelas Ibu Hamil
    – Pemberian PMT untuk bumil resti dengan biskuit dan bahan makanan lokal
    – Imunisasi di Posyandu
    – Kunjungan bumil resti

  1. Perbaikan Sanitasi
    – Pertemuan STBM
    – Sosialisasi CTPS di Sekolah
    – Sosialisasi CTPS pada anak TK pada saat Widura ( Wisata Edukasi Ramah Anak )
PAPARAN ZONA INTEGRITAS UPT PUSKESMAS JOGOROGO
Alamat :

Address
Jln. Raya Jogorogo – Ngawi Km. 01 Jogorogo 63262 Telp 0351 730224

Hours
Senin – Jumat : 08:00AM–14:00PM
Sabtu : 08:00AM–13:00PM
UGD/ Rawat Inap 24 Jam