Evaluasi Zona Integritas UPT Puskesmas Jogorogo

Ngawi – Pelaksanaan Paparan Evaluasi Zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) oleh Kemenpan sudah terlampaui. Dalam mempersiapkan dengan matang, kesiapan UPT Puskesmas Jogorogo, Kepala UPT Puskesmas Jogorogo telah melaksanakan rapat koordinasi persiapan untuk meninjau paparan materi presentasi, penampilan , dan kesiapan masing-masing koordinator tim pokja, Selasa (10/11/2020).

Bertempat di Aula Lantai II Kantor SETDA Ngawi, Di Ruang Bina Wicaksana Praja, kegiatan ini turut dihadiri Kepala Inspektur Kabupaten Ngawi beserta staf, Bagian Ortala Kabupaten Ngawi, Tim Pendampin ZI KAvupaten Ngawi, Kepala UPT Puskesmas Jogorogo serta perwakilan penanggung jawab tim pokja 6 area perubahan sesuai pembagian LKE yang telah ditentukan dalam penilaian dan evaluasi ZI menuju WBK dan WBBM. Kegiatan ini dilaksanakan dengan system daring memakai aplikasi zoom dengan Tim Evaluator Kemenpan RB Republik Indonesia.

Pada kesempatan ini, dibahas dengan detail oleh Kepala UPT Puskesmas Jogorogo dr. Arvika Rastra Parbawanto mengenai paparan materi yang dipresentasikan secara sistematika mulai dari pokja 1 sampai pokja 6, dalam hal ini Ka UPT juga menjelaskan akan pertanyaan dari tim evaluator Kemenpan RB tentang isu nasional bidang Kesehatan, dan unggulan UPT Puskesmas Jogorogo yang mungkin bisa di adobs oleh puskesmas lain.

PENDAMPINGAN PROGRAM P2P OLEH DINAS KESEHATAN PROPINSI JAWA TIMUR

Pada hari Selasa 10 November 2020 Dinas Kesehtan Propinsi Jawa Timur bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi melakukan pendampingan di UPT Puskesmas Jogorogo. Pendampingan dilakukan untuk program P2P yang meliputi TB, HIV, DBD, diare, Kecacingan dan malaria. Pendampingan dilakukan di 2 tempat yaiutu di aula UPT Puskesmas Jogorogo untuk program TB, HIV, DBD, diare dan malaria serta di Posyandu Sambungan Jogorogo untuk program kecacingan. Pendampingan ini dilakukan selain untuk peningkatan kinerja program P2P di UPT Puskesmas Jogorogo, juga untuk meningkatkan system pencatatan dan pelaporan.

P2P ( Program Penanggulangan Penyakit ) terdiri dari beberapa program antara lain :

  1. TB

TB ( Tuberkulosis ) yang juga dikenal dengan TB adalah penyakit paru – paru akibat kuman Mycobacterium Tuberculosis. TBC akan menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama ( lebih dari 3 minggu ), biasanya berdahak, dan terkadang mengeluarkan darah. Di UPT Puskesmas Jogorogo sampai saat ini jumlah pasien sebanyak 26 kasus. Pasien tersebut semua sudah mendapatakan pengobatan secara rutin dan mendapatkan pendampingan untuk minum obat oleh keluarganya atau disebut juga dengan PMO ( Pendamping Minum Obat ). Untuk meningkatkan temuan jumlah kasus / suspect perlu dilakukan pelacakan kasus yang dikenal dengan program ketuk pintu yang telah dilakukan oleh petugas bekerjasama dengan kader kesehatan sehingga kasus suspect TB bisa segera ditemukan dan ditanggani. Dalam pelaporan program TB Paru sudah menggunakan aplikasi SITB ( Sistem Informatika Tubercolusis ) secara online setiap bulan.

  • HIV

HIV ( Human Immunodeficiency Virus ) adalah virus yang merusak siskem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga rentan diserang berbagai penyakit. Infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome ). Sampai saat ini belum ada obat untuk menangani HIV dan AIDS. Akan tetapi ada obat untuk memperlambat perkembangan penyakit tersebut dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita. Di wilayah UPT Puskesmas Jogorogo terdapat 12 kasus HIV yang semuanya sudah mendapatkan pendampingan pengobatan ARV. Bahkan di Tahun 2020 ini UPT Puskesmas Jogorogo telah menjadi Layanan PDP sehingga pasien HIV/AIDS di sekitar wilayah Puskesmas Jogorogo bisa mengambil obatnya di Puskesmas Jogorogo. Dan sudah ditangani oleh tim yang terdiri dari dokter, perawat, bidan dan apoteker yang sudah mengikuti pelatihan di Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Untuk menekan bertambahnya kasus, programmer HIV juga sudah melakukan sosialisasi tentang HIV/ AIDS di masyarakat bahkan di sekolah – sekolah dengan dibentuknya kader CSSA ( Club Siswa Siaga Aktif ).

  • DBD

DBD atau demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh salah satu dari 4 virus dengue. Demam berdarah merupakan penyakit yang mudah menular. Sarana penularan demam berdarah sendiri berasal dari gigitan  nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albocpictus. Penyakit yang jumlahnya meningkat seiring datangnya musim penghujan ini dapat dicegah dengan program PSN ( Pemberantasan Sarang Nyamuk ) yang terdiri dari  kegiatan yang sering dikenal dengan 3 M : Menguras, Mengubur, dan Menutup tempat penampungan air.

  • Malaria

Malaria adalah penyakit infeksi menular yang menyebar melalui gigitan nyamuk. Penderita malaria akan mengeluhkan gejala demam dan menggigil. Walaupun mudah menular melalui gigitan nyamuk, malaria bias sembuh secara total bila ditangani dengan tepat. Namun jika tidak ditangani, penyakit ini bias berakibat fatal dari menyebabkan anemia berat, gagal ginjal, hingga kematian.

  • Diare

Diare adalah penyakit yang membuat penderitanya menjadi sering buang air besar, dengan kondisi tinja yang encer. Pada umunya. Diare terjadi akibat makanan dan minuman yang terpapar virus, bakteri, atau parasite. Dalam pengobatan diare pasien selalu diberikan oralit sebanyak 6 sachet dan juga zink yang harus diberikan selama 10 hari berturut – turut agar kejadian diare pada pasien tidak terulang lagi. Di UPT Puskesmas Jogorogo pasien diare selain mendapatkan penanganan oleh dokter, juga dilakukan konsultasi tentang kesehatan lingkungan.

  • Kecacingan

Penyakit cacingan tidak hanya berisiko dialami oleh anak – anak, namun juga oleh orang dewasa. Kebersihan yang tidak terjaga atau lingkungan yang kotor bias menjadi  salah satu factor yang dapat mempermudah penyebaran infeksi. Dalam rangka mencegah terjadinya kasus kecacingan UPT Puskesmas Jogorogo telah meberikan obat cacing setahun 2 kali yang diberikan kepada balita mulai umur 1 tahun sampai anak usia 12 tahun. Untuk usia balita obat cacing diberikan di posyandu, sedangkan anak usia sekolah obat cacing diberikan di sekolah – sekolah. Balita yang menjadi sasaran  jika tidak datang ke posyandu maka akan dilakukan sweeping oleh kader posyandu. Obat cacing sebaiknya diminum sesudah makan, diberikan pada anak yang sehatPADA. , selain itu juga digali tentang riwayat alergi obat pada anak.

PERTEMUAN STACKHOLDER 5 Pilar STBM UPT PUSKESMAS JOGOROGO

UPT Puskesmas Jogorogo mengadakan Pertemuan Stack Holder dan Sosialisasi 5 Pilar STBM di Desa Talang Dan Umbulrejo. Dalam pertemuan ini dihadir oleh Kepala UPT Puskesmas Jogorogo dr. Arvika Rastra Parbawanto, Kepala Desa Talang dan Kepala Desa Umbulrejo, beserta tookh masyarakat kader dan perangkat desa masing-masing desa. PErtemuan dilaksanakan secara terpisah dengan materi dan tujuan sama yaitu Komitmen Bersama dalam peningkatan 5 Pilar STBM dan Kampanye CTPS. Pertemuan dilaksanakan pada tgl 6 Oktober 2020 di Desa Umbulrejo dan 8 Oktober 2020 Di Desa Talang.

STBM adalah pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. Sedangkan Pilar STBM adalah perilaku higienis dan saniter yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

Pilar STBM ditujukan untuk memutus mata rantai penularan penyakit dan keracunan. Adapun 5 Pilar STBM yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Stop Buang Air Besar Sembarangan, kondisi ketika setiap individu dalam suatu komunitas tidak lagi melakukan perilaku buang air besar sembarangan yang berpotensi menyebarkan penyakit.
  2. Cuci Tangan Pakai Sabun, perilaku cuci tangan dengan menggunakan air bersih yang mengalir dan sabun.
  3. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga, melakukan kegiatan mengelola air minum dan makanan di rumah tangga untuk memperbaiki dan menjaga kualitas air dari sumber air yang akan digunakan untuk air minum, serta untuk menerapkan prinsip higiene sanitasi pangan dalam proses pengelolaan makanan di rumah tangga.
  4. Pengamanan Sampah Rumah Tangga, melakukan kegiatan pengolahan sampah di rumah tangga dengan mengedepankan prinsip mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang.
  5. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga, melakukan kegiatan pengolahan limbah cair di rumah tangga yang berasal dari sisa kegiatan mencuci, kamar mandi, dan dapur yang memenuhi standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan yang mampu memutus mata rantai penularan penyakit.

Perilaku stop buang air besar sembarangan diwujudkan melalui kegiatan paling sedikit terdiri atas:

  1. Membudayakan perilaku buang air besar sehat yang dapat memutus alur kontaminasi kotoran manusia sebagai sumber penyakit secara berkelanjutan.
  2. Menyediakan dan memelihara sarana buang air besar yang memenuhi standar dan persyaratan kesehatan.

Perilaku cuci tangan pakai sabun diwujudkan melalui kegiatan paling sedikit terdiri atas:

  1. Membudayakan perilaku cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun secara berkelanjutan
  2. Menyediakan dan memelihara sarana cuci tangan yang dilengkapi dengan air mengalir, sabun, dan saluran pembuangan air limbah.

Perilaku pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga diwujudkan melalui kegiatan paling sedikit terdiri atas:

  1. Membudayakan perilaku pengolahan air layak minum dan makanan yang aman dan bersih secara berkelanjutan.
  2. Menyediakan dan memelihara tempat pengolahan air minum dan makanan rumah tangga yang sehat.

Perilaku pengamanan sampah rumah tangga diwujudkan melalui kegiatan paling sedikit terdiri atas:

  1. Membudayakan perilaku memilah sampah rumah tangga sesuai dengan jenisnya dan membuang sampah rumah tangga di luar rumah secara rutin.
  2. Melakukan pengurangan (reduce), penggunaan kembali (reuse), dan pengolahan kembali (recycle).
  3. Menyediakan dan memelihara sarana pembuangan sampah rumah tangga di luar rumah.

Perilaku pengamanan limbah cair rumah tangga diwujudkan melakui kegiatan paling sedikit terdiri atas:

  1. Melakukan pemisahan saluran limbah cair rumah tangga melalui sumur resapan dan saluran pembuangan air limbah.
  2. Menyediakan dan menggunakan penampungan limbah cair rumah tangga.
  3. Memelihara saluran pembuangan dan penampungan limbah cair rumah tangga.

Dalam rangkaian pertemuan ini telag disepakati untuk selalu koordinasi dan bekerjasama dalam peningkatan 5 Pilar STBM sehinga terwujudnya masyarakat yang sehat, aman  dan mandiri.

Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)

Pelaksana Pelayanan Upaya Kesehatan Perorangan dikoordinasikan oleh seorang Koordinator program UKP, yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Perorangan. Dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Puskesmas.

Pelaksana UKP mengkoordinir kegiatan :

  1. Pelayanan Rawat jalan
  2. Pelayanan Gawat Darurat
  3. Pelayanan Rawat Inap / Pra Poned
  4. Pelayanan Penunjang
  5. Pelayanan Penunjang Medis
  6. Pelayanan Penunjang Non Medis

Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)

Pelaksana Upaya Kesehatan Masyarakat dikoordinasikan oleh seorang koordinator Program UKM, yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan program wajib dan program pengembangan. Dalam melaksanakan tugas berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Puskesmas.

Pelaksana UKM mengkoordinasikan kegiatan :

  1. Program Wajib.
    • Program Promosi Kesehatan.
    • Program Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
    • Program Gizi Masyarakat
    • Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
    • Program Kesehatan Lingkungan
  2. Program pengembangan,
    • Program Perkesmas
    • Program UKS
    • Program Kesehatan Indera
    • Program UKK
    • Program Kesehatan Olah Raga
    • Program Kesehatan Jiwa
    • Program Usia Lanjut
    • Program KRR

Pelaksana Pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat

Mempunyai tugas:

  1. Menyelenggarakan dan mengkoordinasikan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi terhadap pelayanan  kesehatan di masyarakat yang ditetapkan oleh pemerintah meliputi Upaya wajib dan Upaya Pengembangan.
    • Upaya kesehatan wajib meliputi :
      • Upaya Promosi : Mengkoordinasikan kegiatan promosi kesehatan, pengembangan UKBM, pemberdayaan kesehatan masyarakat, serta pembiayaan kesehatan
      • Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana : Mengkoordinasikan kegiatan pelayanan kesehatan Ibu dan Anak, kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana.
      • Upaya Gizi masyarakat, mengkoordinasikan kegiatan pembinaan dan peningkatan Gizi masyarakat serta pengendalian kasus Gizi masyarakat.
      • Upaya Pencegahan dan Pemberantasan penyakit, mengkoordinasikan kegiatan pengamatan, pencegahan dan pemberantasan penyakit, kegiatan imunisasi, kegiatan matrra dan bencana, serta penyakit degeneratif.
      • Upaya Kesehatan Lingkungan mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan, pengelolaan tempat-tempat umum dan sanitasi dasar, pengelolaan kesehatan makan dan minuman.
    • Upaya Kesehatan Pengembangan mengkoordinasikan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan Pengembangan yang ditetapkan sesuai dengan kebutuhan
  2. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Puskesmas sesuai dengan bidang tugasnya.

PROFIL PKM JOGOROGO

Pada tahun 1958 berdiri BP (Balai Pengobatan) dan BKIA Jogorogo, lokasi pelayanan di rumah bapak Sonto Atmodjo sebagi perawat dan bidan Sarjuningsih, pelayanan KIA dilaksanakan seminggu dua kali. Kemudian pada tahun 1968 dibangun Puskesmas Induk.

  1. Pada 1958 belum ada Kepala Puskesmas
  2. Pada 1968-1974 Kepala Puskesmas pertama dr. Tan Tiong Pik                  ( Puji Setio Warsito )
  3. Pada 1974-1979 Kepala Puskesmas Kedua dr. Johan Prasetyo
  4. Pada 1979-1981 Kepala Puskesmas Ketiga dr. Palgunadi
  5. Pada 1981-1982 Kepala Puskesmas Keempat dr. Sri marniati
  6. Pada 1982-1991 Kepala Puskesmas Kelima dr. Harjono
  7. Pada 1991- 2005 Kepala Puskesmas Keenam dr. Ari wihardono Pada tahun tahun 2003 merintis pelayanan persalinan 24 jam atau pra Poned
  8. Pada 2005 – Agustus 2018 Kepala Puskesmas Ketujuh dr. Ririn Panca Winanti, M.M.Kes yang telah membuat inovasi dengan membentuk Klinik VCT “SETIA” dan Pembentukan Kelompok Prolanis Penyakit Tidak Menular (PTM) CDM dan Hipertensi “MAWAR MERAH”
  9. Pada Agustus 2018 – Desember 2019 Kepala Puskesmas Ke Delapan dr.Moch Nizar Yulianto
  10. Pada Januari 2020 sampai sekarang Kepala Puskesmas Jogorogo dr.Arvika Rastra Parbawanto

Sebagai Puskesmas induk, mempunyai 3 Puskesmas Pembantu, 8 Polindes dan wilayah kerja 12 Desa yang meliputi Desa Umbulrejo, Desa Kletekan, Desa Jaten, Desa Girimulyo, Desa Ngrayudan, Desa Talang, Desa Macanan, Desa Brubuh, Desa Jogorogo, Desa Dawung, Desa Tanjungsari, Desa Soco. Puskesmas Jogorogo merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi

Penetapan UPT Puskesmas diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Ngawi Nomor : 08 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tatakerja Dinas Daerah  pasal 18 ayat 1 huruf g, sebagaimana telah dirubah dengan Perda Nomor : 16 tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah  Nomor 08 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tatakerja Dinas Daerah.

Sedangkan untuk pengaturan Tugas pokok dan Fungsi UPT dijabarkan dalam Peraturan Bupati Nomor 58 tahun 2008 tentang Unit Pelaksana Teknis Dinas kesehatan.

PAPARAN ZONA INTEGRITAS UPT PUSKESMAS JOGOROGO
Alamat :

Address
Jln. Raya Jogorogo – Ngawi Km. 01 Jogorogo 63262 Telp 0351 730224

Hours
Senin – Jumat : 08:00AM–14:00PM
Sabtu : 08:00AM–13:00PM
UGD/ Rawat Inap 24 Jam