Sebagian masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek ( kerdil ) dari standart usianya. Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.
Menurut Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moelok, terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu

  1. Perbaikan Pola Makan
    Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam.
    Istilah ”Isi Piringku” dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.
  2. Perbaikan Pola Asuh
    – Remaja putri dan ibu hamil rutin minum tablet tambah darah 
    – Ibu hamil memeriksakan kandungan 4 kali selama kehamilan
    – Ibu hamil melahirkan di fasilitas kesehatan dan melakuan IMD
    – Memberikan ASI Eksklusif pada bayi 0 – 6 bulan
    – Makanan pendamping ASI ( MP – ASI ) diberikan pada bayi 6 – 24 bulan
    – Imunisasi dasar lengkap bagi bayi dibawah 1 tahun dan imunisasi lanjutan
  3. Sanitasi dan Akses Air Bersih
    – Biasakan CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun ) dengan 6 langkah cuci tangan terutama pada 5 waktu penting : Sebelum makan, Setelah BAB, Sebelum menjamah makanan, Sebelum menyusui dan Setelah beraktifitas.
    – Gunakan Air Bersih
    – Tidak BAB Sembarangan dan gunakan selalu jamban sehat

Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.

Kejadian stunting di UPT Puskesmas Jogorogo pada tahun 2019 sebanyak 6,8 % dan telah terjadi penurunan berdasarkan hasil bulan timbang pada bulan Agustus 2020 menjadi 4, 5 %. Dalam rangka pencegahan stunting di Puskesmas Jogorogo mempunyai program yang kita sebut dengan nama ”STUDI IKAN MAS” yang artinya Stunting Dicegah dengan Perbaikan Pola Makan Pola Asuh dan Sanitasi dengan moto

  1. No susu formula untuk bayi 0 – 6 bulan
  2. No Gadget untuk balita
  3. No junk food
  4. Sanitasi yang terjamin

Adapun kegiatan yang sudah kita lakukan antara lain:

  1. Perbaikan Pola Makan
    * Memberikan PMT Posyandu dalam bentuk buah setiap bulan di setiap posyandu
    * Pembentukan KP – ASI ( Kelompok Pendukung Air Susu Ibu ) di setiap desa
    * Sosialisasi PMBA ( Pemberian  Makan Bayi dan Anak )
  1. Perbaikan Pola Asuh
    – ANC Terpadu di Puskesmas
    – BPIH ( Bulan Peduli Ibu Hamil )
    – Kelas Ibu Hamil
    – Pemberian PMT untuk bumil resti dengan biskuit dan bahan makanan lokal
    – Imunisasi di Posyandu
    – Kunjungan bumil resti

  1. Perbaikan Sanitasi
    – Pertemuan STBM
    – Sosialisasi CTPS di Sekolah
    – Sosialisasi CTPS pada anak TK pada saat Widura ( Wisata Edukasi Ramah Anak )